Rabu, 21 Maret 2012

TUJUAN DARI ......

Adakah Alternatip Ekonomi Neo Liberalisme.? Menurut Adam Smith, tujuan ilmu ekonomi adalah bagaimana mencapai kemakmuran bersama dan seluas luasnya. Filosofi ini relatip diterima baik oleh kalangan kiri atau kalangan kanan, Pertentangan baru muncul ketika sampai pada tatanan praksis, yaitu bagaimana cara / jalan untuk mencapai kemakmuran bersama dan seluas luasnya tersebut ? Nah disini mulailah muncul mazab mazab ekonomi atau sistim ekonomi, yang satu diantaranya adalah sistim ekonomi Neo Liberal. Neo Liberalisme walaupun banyak dihujat dan dicacimaki, tapi dalam kenyataan " telah menguasai hajat hidup orang banyak / banyak negara " Bagi kalangan yang tidak menyetujui atau anti terhadap Neo Liberalisme telah mulai memikirkan dan membicarakan alternatip dari sistim ekonomi Neo Liberal ini.( Choen Hussain Pontoh, Indopregrss.com ) Kini tak cukup lagi berteriak anti neoliberalisme. Lebih penting lagi ada enam masalah besar yang harus dijawab oleh sistim ekonomi alternatip ini.Enam masalah besar tersebut adalah konsep konsep utama dalam sistim ekonomi Kapitalisme Neo Liberalisme, yaitu : 1. Adakah alternatif di luar mekanisme pasar bebas?” 2. Apa alternatif pembiayaan pembangunan pengganti utang luar negeri? 3. Apa alternatif penyehatan perbankan di luar pembentukan bank sentral yang independen? 4. Apa alternatif bagi penyehatan BUMN tanpa harus melakukan privatisasi? 5. Ekonomi kerakyatan itu seperti apa sih? Sistim Ekonomi Islam itu seperti apa ? Bagaimana konsepnya? 6. Apakah yang berbentuk koperasi ataukah ekonomi komunitas model masyarakat adat? 7. Semua indikator indikator ekonomi seperti Pertumbuhan Ekonomi, Inflasi , Kesempatan Kerja, Jumlah orang kaya yang mampu di hasilkan oleh pertumbuhan ekonomi, Nilai tukar, konsumsi, distribusi, produksi dan lain lain itu semua merupakan konsep sistim ekonomi kapitalisme. Apakah ada alternatip lain ? Pertanyaan-pertanyaan ini sungguh menantang secara intelektual, lebih-lebih untuk kebutuhan praksis gerakan. Berdasarkan rekaman sejarah, terdapat sejumlah alternatif pembangunan ekonomi di luar sistem kapitalisme-neoliberal. 1. Pertama, adalah sistem sosialisme dimana ide dasarnya adalah menempatkan proses produksi dan pemasaran di bawah kontrol kelas pekerja. Dengan demikian, kelas pekerja tidak hanya menjual tenaga kerjanya tapi juga, menguasai dan mengontrol hasil kerjanya.Sosialisme ini bertumpu pada semangat kolektivitas, dalam arti kata kolektivitas tidak memangsa indvidu, tapi individu juga tidak beerada diatas kolektivitas. Istilahnya One for all, all for one 2. Kedua, sistem ekonomi yang berwatak nasionalistik. Sistem ini memang tidak menolak secara tegas sistem kapitalisme tapi, juga tidak membuka diri lebar-lebar pada penetrasi kapitalisme internasional. Sekelompok akademisi menyebut sistem ini sebagai kapitalisme negara (state capitalism). Dalam sistem ini, pembangunan ekonomi nasional dibimbing, dikawal dan difasilitasi oleh negara agar tidak terempas oleh gelombang persaingan bebas. Pasal 33 UUD 45 kelihatannya mempunyai semangat seperti ini. 3. Ketiga, sistem ekonomi yang berwatak populis. Dalam sistem ini, pemerintah yang berkuasa memberikan prioritas kepada sektor usaha kecil dan menengah di dalam negeri. Tetapi, berbeda dengan ekonomi yang berwatak nasional, sistem ekonomi populistik ini juga memberikan tempat yang relatif luas bagi serikat pekerja dan serikat tani untuk terlibat dalam pengelolaan ekonomi. 4. Bagaimana dengan Indonesia? Sistem apakah yang bisa menjadi alternatif di luar kapitalisme-neoliberal? Apakah pada konsep Marhaenisme yang dikumandangkan Bung Karno, yang disebutnya juga sebagai “sosialisme yang diterapkan di Indonesia.” Secara empirik, Marhanenisme muncul dalam slogan Berdikari (berdiri di atas kaki sendiri). Menurut saya, Marhaenisme ini lebih menjurus populisme. 5. Bung Hatta muncul dengan ide koperasi yang dianggapnya sesuai dengan ciri asli masyarakat Indonesia. Ide ini pun sebenarnya lebih dekat kepada populisme ketimbang pada sosialisme apalagi nasionalisme ekonomi. Kita sama tahu, kedua ide pembangunan ekonomi ini menemui kegagalan. Ide Marhaenisme dilibas oleh gemuruh kapitalisme Orde Baru. Sementara ide koperasi diadopsi dan kemudian dimitoskan oleh rejim Orba. Bentuk ekonomi koperasi ditaruh di sangkar emas kekuasaan, tapi dibonsai di lapangan praktek. Sementara itu gagasan ekonomi kerakyatan dari kwiek Kian Gie atau Revrison Bawsir lebih banyak merupakan retorika politisi , atau sistim ekonomi Pancasila dari Prof Mubyarto, konsep konsepnya terlalu mengambang untuk diterapkan dalam praktek. Di luar kedua ide ini, belum muncul gagasan ekonomi alternatif di kalangan gerakan sosial. Ataukah memang tak ada yang baru di bawah matahari Nah dibawah ini ada beberapa pernyataan dari kalangan bawah / grass root yang saya kutip dari Sini Ekonomi Kerakyatan adalah sistem ekonomi yang bertujuan mensejahterakan rakyat.secara keseluruhan, bukan hanya segelintir pemilik modal.Baginya, apapun modelnya, baik itu liberal maupun sosialis, yang terpenting mensejahterakan rakyat Ekonomi kerakyatan tidak penting siapa investornya. Yang penting jualannya produk lokal. Jeruk Brastagi, durian Bangkinang, salak Bukit tinggi, rambutan Binjai. Begitu juga produk baju, pakaian, sepatu, dll. Ekonomi kerakyatan adalah ketika investor lokal menguasai saham perusahaan asing dan di dalamnya memperdagangkan sayur bayam dari ladang Mbok Iyem di Wonosari, ikan lele hasil budidaya Pak Paimin dari Magelang dan appel hijau dari kebun Tarjo di Malang. Kita tidak bisa naif untuk tidak melibatkan korporasi dalam membangun ekonomi. yang terpenting bagaimana membangun sistem ekonomi yang fair Sumber bacaan : 1.Coen Hussain Pontoh, Indoprogress.com 2.Lenteradiatasbukit.blogspot.com 3.Sumber sumber lain yang relevan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar